Pendidikan Inklusi; Pendidikan untuk Semua

February 23, 2012

 

Pendidikan inklusi secara konseptual berpijak pada pemahaman tentang sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar disekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil, 1994). Sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama, menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, dan tetap disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback, 1980).

 

Selaras dengan pengertian tersebut dan kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang pendidikan inklusi, di Indonesia pada tahun 2004 telah menyelenggarakan konvensi nasional pendidikan inklusi yang menghasilkan Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia menuju pendidikan inklusif. Dalam rangka memperjuangkan hak-hak anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan belajar, di tahun 2005 telah diselenggarakan simposium internasional yang melibatkan akar dan praktisi 32 negara di Bukittinggi Sumatera Barat. Simposium internasional ini menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi yang menekankan pentingnya mengembangkan program pendidikan inklusi sebagai salah satu cara menjamin bahwa semua anak benar-benar memperoleh pendidikan dan pemeliharaan yang berkualitas dan layak (pendidikan untuk semua).

 

Kerja keras praktisi pendidikan untuk mewujudkan pendidikan inklusi dalam satu dasawarsa terakhir semakin mendapat tantangan dengan tingginya tingkat permintaan untuk penerapan sistem pendidikan model inklusi ini. Data yang dirilis oleh Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PPK LK) Kementrian Pendidikan Nasional, Juli 2011, bahwa sekitar 229.000 anak berkebutuhan khusus di Indonesia yang terbengkalai pendidikannya, baik itu karena keterbatasan biaya maupun karena tidak adanya SLB dilingkungan mereka. Fenomena ini tentunya hadir disebabkan beragam latar belakang diantaranya: karena keterbatasan keterampilan tenaga pendidik yang mendampingi ABK pada sekolah inklusi, belum adanya pemahaman masyarakat (orangtua) secara utuh dalam metode pendidikan inklusi, pemahaman tentang tata laksana pendidikan inklusi di sekolah belum menyeluruh, belum adanya komunitas/kelompok/forum yang kuat dalam memperjuangkan penerapan sistem pendidikan inklusi agar dapat diterima luas oleh publik.

 

Menilai kebutuhan mendesak yang perlu hadir dalam penerapan pendidikan inklusi, secara mikro ialah peningkatan kapasitas tenaga pendidik yang diiringi penguatan kelembagaan/kelompok bergerak dalam pencapaian pendidikan untuk semua. Dengan terlatihnya tenaga pendidik dan kuatnya kelembagaan yang akan mendorong kegiatan-kegiatan pendidikan inklusi, maka gerakan sekolah inklusi yang selama ini masih sporadis dapat terintegrasi secara konsep dan terapan. Melalui sasaran program peningkatan kapasitas tenaga pendidik berbasis komunitas yang diselenggarakan, diharapkan multistakeholder akan membawa isu ini ketingkat yang lebih luas dan pemahaman publik akan terbuka dengan sistem pendidikan inklusi ditengah-tengah mereka tanpa adanya rasa pemisahan sosial, diskriminasi dan marjinalisasi.

 

Dengan harapan tersebut, persamaan hak dalam menerima pelajaran bagi ABK akan menjadi kenyataan. Sistem belajar kompetitif yang selama ini terasa dan dapat menghambat perkembangan talenta anak perlahan beralih menjadi sistem koperatif dimana semua anak belajar di lingkungan yang ramah, dapat menggali potensi diri dan sesuai dengan talenta mereka tanpa dibebankan pada penilaian kuantitatif yang cenderung mengekang kreativitas. Orangtua ABK dan orangtua anak-anak di sekolah reguler dapat saling menghargai dengan segenap unsur kemanusiaan yang ada dalam diri mereka dan guru tidak lagi menganggap keberadaan ABK disekolah menjadi gangguan bagi proses belajar mengajar anak-anak yang lain. Adanya kelompok/komunitas yang terlibat aktif dalam penerapan pendidikan inklusi dapat membantu masyarakat luas mewujudkan cita-cita pendidikan untuk semua.

 

Dengan jaringan kerja dan pengalaman kemitraan menjadi modalitas pelaksanaan program peningkatan tenaga pendidik dalam penerapan pendidikan berbasis komunitas, 6 sekolah di Kota Padang ditetapkan menjadi lokasi program dengan mempertimbangkan aspek pengembangan sekolah inklusi yang ada di kota ini bergerak secara sporadis, kurangnya peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan belum pernah didampingi secara intensif oleh penggiat pendidikan inklusi. Dukungan pemerintah tampak kelabu dengan tidak adanya posisi kelompok/komunitas yang terlibat aktif dalam penerapan pendidikan inklusi. Disamping itu kegiatan ini diharapkan akan mendorong visi Kota Padang sebagai kota pendidikan di Sumatera Barat.


Just remind the old history… . 1 Abad Mr. St. Mohammad Rasjid (19.11.1911 – 19.11.2011)

June 9, 2011

“Liefde voor het vaderland wordt alleen gediend  door edele hart”

“Cinta terhadap tanah air itu hanya dihayati oleh orang-orang yang berhati mulia”  — Mr. St. Mohammad Rasjid –

Beberapa hal penting… .

  1. Residen ke 4 Sumatera Barat (1946) pada masa revolusi kemerdekaan, meletakkan dasar-dasar pemerintahan di negeri yang masih baru berdiri… .
  2. Gubernur Militer Sumatera Tengah yang merupakan tuan tumah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia)  di tahun 1948, terhadap usaha penyelamatan kedaulatan Republik di saat Indonesia butuh ruang untuk mempertahankan harga diri… .
  3. Sekretaris Jendral Departemen Luar Negeri (1950), meletakkan pondasi birokrasi pemerintahan terkait urusan luar negeri disaat kedaulatan penuh Republik pasca Konferensi Meja Bundar 1949… .
  4. Mendukung gerakan PRRI sebagai wujud cinta terhadap tanah kelahiran… .

Grand Launching “RANTAK; Biografi Gusmiati Suid (1942-2001)”

November 2, 2010
Peluncuran Buku
Terbit, Rantak
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Minggu, 10 Oktober 2010 | 18:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dua buku genre budaya, yaitu Rantak (penerbit JC Institute) dan Saatnya Baduy Bicara (penerbit Bumi Aksara dan Untirta) diluncurkan di tempat terpisah, Sabtu (9/10) di Jakarta. Sejumlah pakar membicarakan masing-masing buku dengan menarik dan mencerahkan.

Budayawan, peneliti dan pengajar Institut Kesenian Jakarta Julianti Parani yang membahas buku Rantak mengatakan, keunggulan tokoh seperti (almarhumah) Gusmiati Suid yang menciptakan banyak tari dan salah satunya tari Rantak, terletak pada perannya dalam seni kontemporer.

Suatu tren kesenian yang banyak berkembang di Indoneia pada tahun 70-an dan selanjutnya, meski sudah memiliki akar-akarnya pada masa pergerakan nasional di Indonesia sebagai pengaruh pertumbuhan global dari seni kontemporer dunia.

Gusmiati Suid adalah anak zaman dari perspektif ini. Bahwa akar dari kehidupan lingkungan budaya tradisi menjadi motivasi dalam menemukan alternatif berkesenian yang lebih universal dalam pergaulan dunia masa kini. “Gusmiati Suid hidup dalam situasi yang memungkinkan dia bisa berkembang sebagai seniman kontemporer,” ungkapnya.

Menurut Julianti, karya-karya Gusmiati tidak seperti karya koreografer kebanyakan yang lebih suka pada seni hiburan yang bersifat populer. Gusmiati mempromosikan kedalaman filosofis dalam berekspresi, terutama melalui motif gerak pencak silat yang dominan dalam tradisi Minang. Sebagaimana lazimnya seniman kontemporer, karya seninya terungkap sebagai protes terhadap konsep kemapanan yang terperangkap dalam kemandegan warisan tradisional.

“Meski sudah banyak menerima penghargaan dari pemerintah dan institusi kesenian di dalam maupun luar negeri, pada masa hidupnya ia sering dianggap sebagai seniman aneh oleh masyarakat Minangkabau sendiri,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, agak disesalkan ketika masyarakat Minang terlambat bahu-membahu untuk mendukung Gusmiati memelihara dan mengembangkan budaya Minang. Baginya seni adalah hidup, bukan sekadar mata mencaharian, bukan kerja. “Terbitnya buku ini tidak sekadar dokumentasi, tetapi sekaligus menjadi pemicu lahirnya Gusmiati Suid baru yang penuh dedikasi dan mampu mengharumkan Indonesia di pentas dunia dengan karya besarnya,” kata Fasli Jalal.

Penyair Leon Agusta mengatakan, ketika Gusmiati mau berangkat ke New York untuk mengikuti pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) tahun 1991, karya Gusmiati dipandang sebelah mata. Tak ada tokoh Minang yang berkenan membantu persiapan keberangkatan mereka ke Amerika.

Beberapa bulan setelah pulang dari Amerika, Gusmiati Suid dengan Gumarang Sakti Minangkabau Dance Company, bersama Group Nurdin Daud dari Aceh, dinyatakan oleh Award Committee New York Dance dan Performance award yang terdiri dari 21 juri sebagai penerima penghargaan yang dikenal dengan nama The Bessies Award. “Mengungguli grup-grup lain yang melakukan pementasan di Dance Theater Workshop selama satu tahun,” katanya.

This slideshow requires JavaScript.


in design

March 15, 2010


“RANTAK”

December 31, 2009

Sang Maestro Tari

Akhir abad ke-20, dapat dikatakan hampir di semua penjuru wilayah Indonesia, telah terjadi proses peminggiran dan pengabaian terhadap bentuk-bentuk seni tradisi. Perubahan ini disebabkan karena pesatnya perkembangan industrialisasi sehingga berakibat pada urbanisasi, kemudian dalam perkembangan kebudayaan massa, kehadiran acara televisi, musik populer, dan bioskop menjadi tak terbendung.

Secara garis besar pengaruh modernisasi terhadap kehidupan seni tradisi tampak jelas dengan adanya kecenderungan ke arah komersialisasi dan sekularisasi. Pada zaman modern memang selalu terjadi benturan-benturan antara nilai-nilai lama yang terkandung di dalam seni pertunjukan tradisional dan nilai-nilai baru pada seni pertunjukan massa. Cukup banyak alasan yang muncul, diantaranya seni tradisi dianggap tidak lagi relevan dengan semangat zaman, seni pertunjukkan tradisional sangat rumit untuk dipahami dan tidak menghibur sehingga tidak perlu lagi disediakan ruang selayaknya.

Pandangan orang terhadap seni tradisi yang sudah tidak relevan terhadap semangat zaman, sudah kuno dan kolot kemudian dibantah oleh Gusmiati Suid, seorang koreografer tari internasional. Ia mencoba untuk mempelajari, merenungkan, mengolah, dan menyajikan jenis seni pertunjukan tari dalam bentuk yang baru, dengan  gerakan-gerakan  yang  dinamis dan enerjik,  namun tetap menyiratkan tradisi budaya Minangkabau. Gerakan tari yang tercipta berasal dari gerak pencak silat yang merupakan akar tari Minangkabau dan mengandung falsafah Minangkabau yang kuat.

Kalangan seniman tari Minangkabau mengakui apa yang telah dicapai Gusmiati Suid. Ia dianggap mampu melakukan revitalisasi budaya, ketika seni tradisi Minangkabau yang mengandung arti falsafah hidup serta berakar dari gerak pencak silat mengalami proses peminggiran dengan gerak gaya Melayu yang hanya mementingkan pada hiburan semata. Gusmiati Suid memberikan tawaran dan jalan keluar yang kreatif untuk menghadapi proses peminggiran budaya tersebut. Gusmiati Suid kembali menggunakan pencak silat yang merupakan akar dari gerak tari Minangkabau sebagai gerak karya tarinya dan mengandung falsafah Minangkabau dalam menyampaikan sebuah pesan.

Read the rest of this entry »


Happy New Year Muharram 1st Hijriya 1431

December 19, 2009

JC Institute Mengucapkan “Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1431 H”

Semoga menjadi tahun kesuksesan bagi kita semua. Amin


“Kapita Selekta: Gastroentero-Hepatologi Ilmu Penyakit Dalam (KS GEH IPD) Buku 1″

December 10, 2009

KATA PENGANTAR

Bismillaahir rahmaanir rahiim.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Tak dapat disangkal bahwa desakan kebutuhan mahasiswa kedokteran khususnya ko-asisten yang sedang melaksanakan stase kepaniteraan klinik di Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto untuk mendapat panduan tertulis teori keilmuan sebagai pedoman dalam mempelajari cara melakukan penatalaksanaan pelayanan kedokteran primer pada pasien di ruang pelayanan medik, baik di poliklinik maupun di ruang rawat inap merupakan tantangan bagi para pembimbing / staf pengajar ilmu penyakit dalam.

Dalam bidang gastroentero-hepatologi, tantangan itu dijawab dengan suatu upaya menuliskan teori keilmuan praktis klinis (kapita selekta) sebagai panduan praktek pelayanan medik yang sesuai dengan arahan Departemen Kesehatan RI dalam pelayanan kedokteran di rumah sakit. Buku ini adalah buah tulisan tersebut, yang ditulis dan dikumpulkan oleh dokter spesialis penyakit dalam yang bergerak di bidang gastroentero-hepatologi.

Penulisan dalam buku ini merujuk kepada beberapa referensi yang terseleksi sesuai kebutuhan dan pemikiran para penulisnya serta bahan kompendium perkuliahan mahasiswa tingkat klinik (ilmu penyakit dalam II), sehingga tetap dianjurkan untuk membaca sumber serta referensi lainnya yang berkaitan dengan judul-judul yang dipaparkan.

Read the rest of this entry »


“Bang Saidal; Konsistensi Anak Zaman”

December 10, 2009


Hantaran Kata

Siapa saya? Kalimat pertama yang terucap dari bibir keriputnya dan kulit yang semakin mengendur dimakan usia, kian menegaskan. Dengan lirih, Saidal Bahauddin kembali mempertanyakan tentang apa yang telah dilakukannya. Bukankah masih banyak figur yang lebih pantas untuk kau abadikan, wahai adinda? Di dunia ini, hingga sudut negeri, tentu masih banyak manusia-manusia unggul yang lebih berhak untuk kau angkatkan kisah mereka, sebagai bahagian dari siklus sejarah yang terus bergerak maju. Bukankah masih terlalu kecil untuk kau lukiskan sebagai mata rantai perjuangan bagi generasi mendatang? Tetapi mengapa saya?… .

Serangan pertanyaan bertubi-tubi tertuju kepada kami tim penulis, ketika hendak menyampaikan keinginan kami atas nama generasi muda Sumatera Barat untuk menuliskan sejarah kehidupan Saidal Bahauddin, seorang tokoh lintas generasi, yang seolah terlupakan dari belantika pergerakan mahasiswa/pemuda Sumatera Barat kontemporer. Barangkali beliau merasa belum pantas menerima penghargaan seperti ini. Tetapi lebih daripada yang beliau perkirakan, ternyata nama besar Saidal Bahauddin jauh melampaui batas zaman yang mempertemukan tiga generasi pergerakan mahasiswa/pemuda di Sumatera Barat.

Sumatera Barat seakan-akan menemukan kembali ruh perjuangan konsisten yang selama ini disia-siakan. Begitu sia-sianya sampai rambut sang anak seluruhnya memutih. Lima dekade terhitung sejak Saidal menapakkan kakinya pertama kali di tanah Minangkabau, Bukittinggi tahun 1956. Hingga detik ini, dimana udara pagi masih mengisi paru-parunya yang mana akal pikiran masih mendominasi gerak laku, Saidal Bahauddin tetap berpijak pada pembinaan generasi muda calon-calon pemimpin masa depan. Pergulatan tiada henti semenjak sentuhan pertama dengan alam tempat nenek moyangnya dilahirkan dahulu, dengan penuh ketulusan, kedermawanan, ketegasan dan kasih sayang. Saidal Bahauddin yang dikenal dengan panggilan ”Abang” memancarkan cahaya pembaharu, sebagai pendobrak zamannya dan terus dikenal seperti itu sampai kini.

Read the rest of this entry »


“Musim Manggaro; Sebuah Antologi Cerpen Perempuan Minangkabau”

December 10, 2009

Sekapur Sirih

Di tengah derasnya arus globalisasi belakangan ini, muncul begitu banyak cerpen-cerpen yang menceritakan materialisme dan hedonisme. Secara tidak langsung  kondisi inilah yang membuat generasi muda menganggap sebuah kearifan lokal merupakan hal yang sudah kadarluasa atau ketinggalan zaman. Melihat kondisi seperti itu maka kami mencoba mencari alternatif untuk menghadapi kuatnya arus globalisasi, dengan menerbitkan “Musim Manggaro: Sebuah Antologi Cerpen Perempuan Minangkabau”. Meski budaya membaca dan menulis pada masyarakat kita saat ini masih terbilang jauh dari memadai, apa lagi untuk menerima kehadiran karya penulis-penulis muda yang berbau lokal, tidak membuat kami berhenti begitu saja untuk terus melahirkan penulis-penulis muda berbakat.

Buku ini, merupakan kumpulan cerpen yang menceritakan bagaimana kehidupan perempuan dengan latar geografis Minangkabau dalam mengarungi setiap kehidupan yang dihadapinya. Adat istiadat dan aturan-aturan yang sudah berlaku sebelumnya, sangat kuat dalam setiap cerita. Elly Delfia menguraikan kata demi kata bagaimana perempuan Minang  dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada di lingkungannya dan mewujudkan impian yang tertunda dengan kondisi sederhana, tanpa ada rasa menyerah dan putus asa.

Read the rest of this entry »


Program

December 6, 2009

Running Programs

  1. Cooperation with Yayasan Simaq about Understanding Qur’an System Development Program
  2. Cooperation with INS Kayutanam as a promoter  “Indonesian Style”, an Indonesian-style education system
  3. Education management consultant on Yayasan Insan Qurani Indonesia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.